Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satelit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2013

Proyek Peluncuran Satelit di Biak Masih Jalan

Proyek ini mengambang bertahun-tahun karena belum ada kesepakatan. 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Y. GaluzinDuta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, mengatakan proyek peluncuran satelit atau air lunch di kota Biak, Provinsi Papua masih terus berjalan. Galuzin bahkan membantah apabila proyek itu tiba-tiba batal karena hingga ini perkembangan proyeknya masih belum jelas.

"Setahu saya proyek itu masih terus berjalan dan tidak ada pembatalan," ungkap Galuzin kepada VIVAnews, Selasa 10 September di kediamannya, Kuningan, Jakarta.

Namun Galuzin mengatakan masih harus memeriksa data dan informasi lebih lanjut soal perkembangan proyek tersebut. Dia beralasan ketidaktahuannya itu karena dia masih baru menjabat sebagai Duta Besar Rusia di Indonesia Januari 2013 kemarin.

"Saya akan memeriksa terlebih dahulu hasil kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Indonesia tahun 2007 silam. Apakah memang ada kesepakatan yang memang membahas soal peluncuran satelit," imbuh dia.

Proyek peluncuran satelit Rusia dimulai tahun 1999 silam. Saat itu mereka mendirikan Air Launch Aerospace Corporation (ALAC). Proyek ini menarik perhatian banyak negara termasuk Indonesia.

Proyek Air Launch Indonesia dengan Rusia rencananya akan dilaksanakan di Pulau Biak, Papua. Peluncuran satelit akan dilaksanakan dari Bandara Internasional Frans Kaisepo, kota Biak pada tahun 2018 mendatang.

Alasan pemilihan Biak sebagai lokasi peluncuran, karena posisinya sangat dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga dapat menghemat biaya lebih murah hingga sepuluh kali lipat. Selain itu sesuai dengan bandara berstandar internasional dengan panjang 3.570 meter.

Namun proyek itu terus "mengambang" selama bertahun-tahun karena belum tuntasnya kesepakatan antar pemerintah kedua negara menyangkut hal teknis, misalnya menyangkut jaminan perlindungan teknologi roket.(eh)


Senin, 09 September 2013

Lapan dan LEN Siapkan Satelit Mutakhir


Indonesia terus mengembangkan satelit buatan dalam negeri dan berencana mengembangkan satelit senilai Rp 2 triliun. Satelit ini akan siap tahun 2019, ujar Kepala Lapan, Bambang S Tejasukmana dalam konferensi internasional “Integrated Technology Application to Climate Change”, di Jakarta.

Satelit Lapan itu akan memiliki berat 1 ton, melibatkan berbagai pihak dan jauh lebih baik dari satelit-satelit Lapan saat ini. Untuk itu dananya pun mencapai Rp 2 triliun, sementara satelit yang ada saat ini berbiaya Rp 500 miliar.

“Nanti yang memproduksi adalah industri, yang potensial adalah PT LEN,” ujar Bambang.

Pengembangan satelit saat ini masih pada tahap sangat awal, yakni mission requirement. Direncanakan, satelit mampu mendukung program ketahanan pangan, energi, serta dampak perubahan iklim. Lapan nantinya akan berperan dalam memberikan dasar pengetahuan pengembangan satelit.

Pengembangan satelit ini juga dimaksudkan untuk menguatkan peran serta Indonesia dalam keanggotaan Global Earth Observation System of Systems. Saat ini hanya ada beberapa negara yang memiliki satelit canggih pemantau perubahan iklim, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Brasil, dan Korea Selatan.

Indonesia terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi perubahan iklim, termasuk pengembangan satelit penginderaan jarak jauh.


Deputi Penginderaan Jauh LAPAN Taufik Maulana mengatakan, Indonesia tengah mengembangkan satelit LAPAN A-2 dan LAPAN A-3. Untuk satelit LAPAN A-2 sudah selesai dibuat dan akan segera diluncurkan tahun depan. Peluncurannya akan bekerja sama dengan India karena roket yang dimiliki Indonesia belum sanggup meluncur jarak jauh.

“Ini kan jaraknya 600 kilometer. Diluncurkan sekitar Januari-Juni tahun depan,” kata Taufik. Satelit LAPAN A-2 berbobot 75-100 kilogram.

Sementara itu, satelit LAPAN A-3 sedang dirancang oleh LAPAN bersama IPB. Sama seperti pendahulunya, satelit LAPAN A-3 juga akan diluncurkan dengan menumpang roket peluncuran satelit lain milik negara lain yang lebih besar.


  ● JKGR